Rabu, 29 Januari 2014

Emha Ainun Nadjib: Gusti Allah Tidak “Ndeso”

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. “Cak Nun,” kata sang penanya, “misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: 
 pergi ke masjid untuk shalat Jumat, 
mengantar pacar berenang, atau 
mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, 
mana yang sampeyan pilih?“

Cak Nun menjawab lantang, “Ya nolong orang kecelakaan.”
“Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?” kejar si penanya.
“Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu,” jawab Cak Nun.
“Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, ” katanya lagi. “Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang
memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi.

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. 

Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, “Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.

Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan. Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?”

Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.

Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. 

Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. 

Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. 

Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. 

Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. 

Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. 

Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.



Ekstrinsik VS Intrinsik

Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. 

Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, “Ia di neraka.” Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup. Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial.

Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.

Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain. Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W Allport. Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik.

Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. 

Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.

Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna.

 Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. 

Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang.

Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari kebahagiaan, kata Leo Tolstoy. Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri. Kebahagiaan terletak pada kebersamaan. 

Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan. Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-ritual agama.

Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap hipokrit; kemunafikan. Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, kita ribut tentang bid’ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid’ah dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan.

Indonesia, sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat, Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih menjadi bentuk kekerasan yang memakan korban. Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu, rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, Papua Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis.

Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka. Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi.

Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi. Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali, di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit. Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak beragama. [ed.AYS]



Emha Ainun Nadjib/Cak Nun (Kutipan)

  1. “Kamu harus membedakan konteks perbedaan pendapat dalam politik dengan pergaulan kemanusiaan. Jangan menganggap pejabat pasti jelek dan rakyat biasa pasti baik, pandangan seperti itu tidak adil, ada urusan dan konteksnya sendiri-sendiri” (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  2. “Kamu punya ruang dalam hatimu untuk merasakan hati para mbambung (gelandangan), sehingga hatimu sedih, getir, terimpit seribu gunung, sementara orang-orang pandai sibuk dengan program-program dan omong besar di koran-koran. Tuhan tidak bertanya padamu apakah kamu mampu menolong mbambung atau tidak, tapi melihat apakah kamu mencintai orang lemah atau tidak” (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  3. “Yang lebih kalian cari bukanlah kebaikan melainkan kekayaan, yang lebih kalian buru bukanlah keluhuran melainkan kenyamanan, dan pada posisi seperti itu kalian selalu merasa lebih tinggi derajat dibanding orang kecil. Coba hitunglah kehidupan di sekitarmu, hitung pula dirimu sendiri, temukan kemuliaan di sekitarmu. Belajarlah membedakan mana kemuliaan dan mana kehinaan, amatilah mana orang yang luhur dan mana yang hina, mana yang derajatnya tinggi dan mana yang rendah. Pakailah mata Allah sebagai ukuran” (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  4. ada yang bilang negeri ini “negeri selembar kertas”, masyarakat kita “masyarakat selembar ijazah”. silahkan ngomel sistem pendidikan kita tidak bermutu, kesempatan berpendidikan tidak paralel dengan kesempatan memperoleh kerja, atau canangkan proyek deschooling society (masyarakat tanpa sekolah), tapi pokoknya kalau ndak punya ijazah ya nasibnya lebih ndlahom (idiot, goblok, otak tak berisi) dibanding dengan yang punya ijazah (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  5. agama diajarkan kepada manusia agar ia memiliki pengetahuan dan kesanggupan untuk menata hidup, menata diri dan alam, menata sejarah, kebudayaan, politik …. Tuhan mengajarkan kreatifitas terlebih dahulu (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  6. agama mengajarkan kepada manusia bagaimana menumbuhka iman, menyusun pola-pola pembangunan suatu negeri, mengatur politik dan ekonomi, termasuk juga mengintensifkan bidang-bidang pendidikan pada level mana pun sedemikian rupa sehingga sedikit peluang bagi anggota masyarakat untuk mengalami kekecewaan sosial ekonomi serta kebingungan psikologis (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  7. anak-anak muda tak bisa hanya menggantungkan diri akan jadi pegawai negeri, pembengkakan populasi penduduk akan makin berbanding terbalik dengan penyediaan lapangan kerja, jadi yang akan tegak hidupnya adalah orang-orang yang bermental wiraswasta, yang tidak priyayi, yang ulet dan bersedia bekerja keras (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  8. Anda tak bisa menghakimi ekspresi seseorang hanya dengan melihat bunyi kata-katanya, melainkan Anda harus perhatikan nadanya, nuansanya, letak masalahnya (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  9. aneh : hukum negara bertabrakan dengan hak dasar kemanusiaan, dan keduanya telah tiba pada kondisi purik (saling membenci) yang susah disembuhkan. Tetapi, jalan terang tetap terlihat, setidak-tidaknya di cakrawala pandangan setiap orang yang tak mengenal putus asa 
  10. apa gunanya ilmu kalau tidak memperluas jiwa seseorang sehingga ia berlaku seperti samudera yang menampung sampah-sampah? Apa gunanya kepandaian kalau tidak memperbesar kepribadian manusia sehingga ia makin sanggup memahami orang lain? (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  11. bukan agama kalau turun ke bumi hanya untuk pandai memerintah dan melarang. Sebelum Adam dilarang makan buah khuldi, dia diberi pelajaran terlebih dahulu mengenai “nama benda-benda”, mengenai segala yang mesti diketahuinya dalam kehidupan (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  12. bukanlah hidup kalau sekadar untuk mencari makan, bukankah sambil bekerja seseorang bisa merenungkan suatu hal, bisa berzikir dengan ucapan yang sesuai dengan tahap penghayatan atau kebutuhan hidupnya, bisa mengamati macam-macam manusia, bisa belajar kepada sebegitu banyak peristiwa… Bisa menemukan hikmah-hikmah, pelajaran dan kearifan yang membuat hidupnya semakin maju dan baik (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  13. dalam pengadilan di Indonesia, kadang kita harus memilih alternatif yang terbaik di antara yang terkutuk, dengan menyisakan sedikit harapan bahwa hati nurani manusia tidak semuanya terdiri atas buku (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  14. demokrasi itu penuh ironi dan ranjau kalau manusia tak menguasai manajemen untuk menggunakannya, demokrasi hanya bisa menjawab beberapa problem hidup, tapi problem yang lain membutuhkan nilai yang lebih tinggi daripada demokrasi (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  15. dunia ini masih dipimpin oleh orang yang lebih memilih kenyang meskipun dijadikan budak daripada lapar tapi bertahan harga dirinya (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  16. hakikat hidup bukanlah apa yang kita ketahui, bukan buku-buku yang kita baca atau kalimat-kalimat yang kita pidatokan, melainkan apa yang kita kerjakan, apa yang paling mengakar di hati, jiwa dan inti kehidupan kita (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  17. hidup ini sangat luas dan dimensi-dimensi persoalannya tak terhingga, untuk itu diperlukan bukan sekadar wawasan yang luas dan pengetahuan yang terus dicari melainkan juga kearifan dan sikap luhur yang konsisten dari hari ke hari (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  18. jiwanya seniman itu bagaikan ruang kosong, tak ada lemari atau kotak-kotak yang bisa dipakai untuk menyembunyikan sesuatu, segalanya tampak jelas dan jujur di mata (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  19. kalau kita jadi negara industri tidak berarti bahwa segalanya akan beres, tak berarti kita akan terbebas dari kemiskinan, kebodohan atau kekejaman kekuasaan. Industri hanyalah sebuah cara di antara kemungkinan cara-cara lain yang dianggap bisa membantu menyejahterakan masyarakat 
  20. kalau para mahasiswa bercita-cita hendak menjadi pemimpin bangsa, sejak sekarang harus berlatih menampung bermacam-macam gejala manusia, di dalam pergaulan mereka tidak boleh memakai kerangka “menang-kalah” apalagi memakai interes egonya belaka, melainkan mempertimbangkan kepentingan bersama, dan untuk itu diperlukan kesabaran dan kearifan terhadap berbagai kemungkinan yang muncul dari “rakyat” mereka, tidak boleh gemedhé (merasa paling pintar, sombong) (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  21. kalau seseorang bersikap kreatif untuk menemukan apa saja hal baik yang bisa dikerjakan dalam hidup ini, jam-jamnya tidak akan sempat ia gunakan untuk sedih atau meratap, sebab sudah habis untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  22. kalau seseorang menjadi pemimpin, ia tak sekadar memimpin masyarakat manusia, tapi juga memimpin masyarakat makhluk yang luas, ia memimpin hak-hak binatang, hutan, lautan, barang tambang …. di situlah antara lain terletak kesalahan ideologi pembangunan modern yang merusak alam, bahkan merusak manusia (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  23. kata ahli pedang, ilmu pedang tertinggi adalah kalau sudah bisa membelah kapas yang melayang-layang tanpa mengubah arah gerak kapas itu. Aneh, ujian tertinggi bagi keahlian pedang bukanlah baja atau batu karang melainkan kapas. Kekerasan yang telah mencapai puncaknya berubah menjadi kelembutan, kelembutan tak bisa dikalahkan oleh kekerasan (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  24. kearifan-kearifan agama harus diterjemahkan ke dalam sistem nilai pengelolaan sejarah, kebudayaan dan peradabannya (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  25. kebanyakan orang tak bisa tidur, mereka hanya tertidur, karena sepanjang siang dan malam hari mereka diberati oleh dunia (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  26. kebersihan luas makananya, kebersihan ruang dan kampung hanyalah satu hal, hal lain adalah kebersihan jiwa manusia itu sendiri, kebersihan pergaulan antarmanusia, baikpergaulan sosial, pergaulan ekonomi, pergaulan politik dan hukum (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  27. keceriaan dan kenyamanan hidup tidak terlalu bergantung pada hal-hal di luar manusia melainkan bergantung pada kekayaan batin di dalam diri manusia (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  28. kematian terkadang merupakan kritik terhadap kehidupan, Tuhan mengambil nyawa seseorang tak semata dalam rangka menyayangi orang itu tapi juga sekaligus memberi peringatan kepada semua yang ditinggalkan oleh almarhum (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  29. kreatifitas berpikir orang Barat harus kita tiru,tapi ekses dari kebudayaan teknologis yang terlalumemanjakan kebinatangan, sebaiknya kita cegah sejak sekarang.Setiap badan perencanaan pembangunan harus melibatkan para agamawan, budayawan, negarawan, filosof, seniman,orang-orang kecil awam yang arif…. Kita jangan hanya dipimpin oleh tender-tender 
  30. manusia diberi-Nya kesanggupan untuk beradaptasi terhadap bermacam situasi, manusia dikasih-Nya darah, naluri dan kecerdasan agar ia tetap saja mampu menyelenggarakan kebahagiaan, meskipun dengan suku cadang yang terendah nilainya ia bisa menghasilkan ramuan kebahagiaan yang jauh melebihi taraf kebahagiaan yang dirajut dengan kemewahan (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  31. manusia harus jernih memandang dan menilai sesuatu, boleh pakai cara pandang kelas, boleh agak hitam-putih tentang masalah tertentu, tapi harus selalu dikembalikan pada kerangka pandang yang lebih universal, yang melihat manusia sebagai suatu keutuhan, yang memiliki kelebihan dan kekurangan, benar sekaligus salah (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  32. manusia jangan menunggu hancur dulu baru insaf (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  33. menyepi itu penting, supaya kamu benar-benar bisa mendengar apa yang menjadi isi dari keramaian 
  34. orang boleh kaya raya, persoalannya bagaimana kekayaan itu diperoleh, kemudian bagaimana sikapnya terhadap kekayaan tersebut. Juga kalau miskin! (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  35. orang boleh salah, agar dengan demikian ia berpeluang menemukan kebenaran dengan proses autentiknya sendiri (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  36. orangtua kita mengajarkan suatu nilai yang membedakan dua jenis anak, yang patuh tanpa reserve, yang pejah gesang nderek (hidup-mati ikut), disebut “anak baik-baik”, sedangkan yang mencoba rasional, memilih otoritasnya, meskipun itu justru sejalan dengan “lorong keadilan” disebut “anak nakal” 
  37. para pekerja agama tidak mengantarkan hakikat Tuhan sebagai Mahasubjek yang penuh rasa cinta, rasa sayang dan kesediaan tanpa batas untuk membahagiakan manusia (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  38. peraturan dan undang-undang tidak slalu sama dengan keadilan, ia bahkan bisa saja bertentangan denganprinsip keadilan. Undang-undang memiliki relativitasnya sendiri dan tidak mutlak sebagaimana firman Tuhan (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  39. perjuangan ialah perjuangan. Sejarah dan Tuhan tidak mencatat kemenangan atau kekalahan, tetapi yang dicatat adalah perjuangan itu sendiri (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  40. politik diciptakan dan dimanifestasikan berdasarkan filosofi dan tujuan untuk menyediakan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi manusia, tapi yang terjadi adalah sama sekali kebalikannya (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  41. secara filosofis, sesungguhnya tak ada “orang besar” dan tak ada “orang kecil” dalam takaran pemilikan ekonomi atau perbedaan status sosial budaya. Kecil dan besar hanya terjadi pada kualitas kepribadian (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  42. Tuhan banyak diperkenalkan oleh pemimpin-pemimpin agama sebagai “algojo” yang kejam, “polisi” yang selalu curiga atau “hantu” yang kehadirannya di hati manusia selalu menimbulkan rasa waswas, cemas, ngeri dan penuh ancaman. Agama kurang diperkenalkan sebagai berita gembira dan janji cinta, melainkan sebagai tukang cambuk, pendera dan satpam yang otoriter (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  43. yang menguasai dunia adalah ketelamjuran sistem-sistem internasional yang merupakan lingkaran setan yang memenjarakan manusia, terutama orang-orang kecil. Apalagi sistem-sistem besar itu tidak sungguh-sungguh untuk manusia dan kemanusiaan, tetapi untuk mitos-mitos yang bernama kemajuan, modernisasi, metropolitanisasi, yang keseluruhannya menjebak manusia dalam ketersesatan filosofi, keterjerembaban politik dan ekonomi serta kebuntuan budaya (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun) 
  44. yang penting bukan apakah kita menang ataukalah, Tuhan tidak mewajibkan manusia untuk menang sehingga kalah pun bukan dosa, yang penting adalah apakah seseorang berjuang atau tak berjuang

http://kajianislam.wordpress.com/2007/08/03/emha-ainun-nadjib-gusti-allah-tidak-ndeso/
http://daunhijau.com/2013/08/emha-ainun-nadjibcak-nun-kutipan/

Selasa, 21 Januari 2014

Apakah Kita Termasuk Orang Yang Sombong???

CIRI-CIRI ORANG YANG SOMBONG

orang sombong tak tahan mendengar kritik dan saran
Bila dikritik jadi emosi lebih sibuk membela diri daripada mentafakuri dan mensyukuri
Orang sombong bila dikritik akan sakit hati, dendam dan sibuk balas mengkritik, bukannya sibuk memperbaiki diri
Semakin sombong semakin mudah tersinggung
orang sombong merasa kebenaran hanya miliknya sehingga sulit menerima pendapat yg lain
anehnya orang sombong tak merasa dirinya sombong, justru sibuk menganggap yg tak disukainya sbg orang sombong.
Mudah bagi kita utk menilai kesombongan orang lain tapi sulit sekali utk mengakui
kesombongan diri sendiri.
kesombongan orang lain tak berbahaya, tapi kesombongan diri kita pasti mencelakakan kita sendiri.
Orang sombong merasa spt diatas menara melihat orang2 ada dibawahnya. Pdhl menurut yg lihat, yg diatas itu kecil.




Orang Yang Merasa Dirinya Tidak Sombong Justru Orang Yang Sombong

SOMBONG. Perilaku negatif yang tidak disukai orang. Orang sombong, sedikit temannya. Orang sombong, dijauhi orang. Masalahnya, sombong itu apa? Orang yang sombong itu yang bagaimana? Apakah orang sombong merugikan orang lain? Kenapa orang menjadi sombong? Apakah sombong itu penyakit? Dan banyak hal tentang sombong. Ada hal-hal yang sudah kita ketahui tetapi ada pula hal-hal yang belum kita ketahui. Akibatnya, banyak orang memvonis orang lain sombong, padahal dirinya juga bisa dinilai orang lain sebagai orang sombong. Bahkan banyak orang tidak tahu bahwa orang yang merasa dirinya tidak sombong justru orang yang sombong.

A.Di bawah ada beberapa kejadian yang harus diperhatikan dan dianalisa secara cermat.

1. Sombongkah tetangga saya?
Saya punya tetangga depan rumah. Salah satunya seorang remaja. Tiap kali bertemu dengan saya, selalu memalingkan muka. Pura-pura tidak tahu. Perilakunya sama dengan ketua RT saya yang baru. Walaupun bertemu di jalan, tetap cuek. Sombongkah dia?

Saya yang lebih tuapun mencoba menegurnya dan dia mau membalas teguran saya. Kalau begitu, kenapa selama ini kalau bertemu dengan saya pura-pura tidak tahu? Kemungkinannya banyak. Antara lain, sejak kecil memang tidak pernah diajari menyapa orang lain terutama yang lebih tua. “Clingus” (rasa ingin menegur tetapi takut kalau tidak dibalas, malu, enggan, merasa rendah diri atau karena sudah menjadi kebiasaan buruk yang sulit dihilangkan). Jadi yang terjadi selama ini, remaja itu tetap bisa diajak berkomunikasi dengan baik. Tetapi, tetap saja kalau bertemu di jalan tidak menyapa saya. Sombongkah dia? Tidak. Pembawaannya memang begitu (clingus) atau kuper (kurang pergaulan).

2. Mengendarai moge HD sombongkah?

Seorang sahabat saya kadang-kadang bertemu saya tiap Sabtu atau Minggu. Saya memakai motor tiga roda berkanopi sedangkan teman saya memakai moge (motor gede) HD. Tiap kali bertemu dengan saya, dia selalu meledek :” Beli HD yang harganya ratusan juta, dong!. Buat apa naik motor tiga roda yang harganya murah? Ha ha ha…!”. Dia meledek. Sombongkah dia?

Karena saya sudah mengenalnya puluhan tahun, maka saya tahu dia bukanlah sombong. Dia sahabat baiknya. Sejak dulu memang dia suka bercanda dengan cara meledek. Tidak menyakitkan hati karena sejak dulu gaya bercandanya seperti itu. Saya memakluminya. Jadi, dia bukanlah orang sombong. Gaya bercandanya memang begitu.

3. Ada gelar sarjana di kartu namanya
Seorang sahabat saya pernah bercerita. Ketika dia dipindahtugaskan ke Sulawesi Selatan,maka hari pertama berkenalan dengan karyawan lama, diapun membagi-bagikan kartu namanya. Ternyata ada yang nyeletuk :” Sombong amat. Mentang-mentang sudah bergelar S1 dan S2″.

Sahabat saya terkejut mendapat respon seperti itu. Padahal maksudnya adalah memperkenalkan diri supaya karyawan-karyawan lama tahu namanya, alamatnya, nomor teleponnya dan lain-lain. Jadi, niatnya bukanlah untuk menyombongkan gelar sarjananya. Kalau memang kejadiannya, maka tidak bisa sahabat saya dikatakan sombong. Penilaian sombong muncul akibat kesalahpahaman saja.

4. Mengamalkan ilmu dianggap sombong
Saya memang punya pengetahuan banyak. Karena saya punya hobi menulis, maka sayapun sering membuat artikel di blog pribadi, blog pihak lain, di Facebook, surat kabar dan lain-lain. Untuk artikel kritik memang saya menggunakan gaya sarkasme sebab kritik saya tergolong kritik “keras”. Bahkan tak jarang saya menggunakan kalimat bernada membodoh-bodohkan. Ternyata, melalui inbox ada yang mengatakan saya ini sombong. Betulkah saya sombong?

Di dalam membuat status, artikel dan tulisan lainnya, tak ada niat untuk menyombongkan diri. Gaya bahasa sarkasme memang bisa memberi kesan itu. Gaya sarkasme sengaja saya pilih karena kalimatnya langsung “mengena”. Langsung “terasa”. Bukan sekadar menyalahkan, tetapi mengoreksi sesuatu yang selama ini dianggap benar oleh masyarakat padahal sesungguhnya tidak benar. Atau, menulis hal-hal yang belum dipahami masyarakat. Jadi, sifatnya adalah mengamalkan pengalaman, pengetahuan dan atau ilmu pengetahuan yang saya miliki dan memberikan pencerahan.

5. Membanggakan kekayaan termasuk sombongkah?
Hal ini biasanya terjadi dikalangan para penguasa, pemimpin, konglomerat, pengusaha, dan para pejabat negara serta keluarga mereka. Mereka membanggakan kedudukan dan hartanya sehingga merendahkan dan melecehkan orang lain.

Memang orang kaya punya segalanya. Punya rumah mewah, punya mobil mewah. Kalau mereka sering keliling kota menggunakan mobil mewah, apakah mereka orang sombong? Kalau seseorang punya rumah mewah sedangkan tetangga-tetangganya rumahnya sederhana, apakah dia termasuk sombong? Kalau dia menceritakan rasa bangganya atas kekayaannya, apakah dia termasuk sombong.

Kalau ternyata dia dalam posis menikmati kesuksesannya atas jerih payahnya berusaha secara halal atau berbisnis secara halal sehingga dia kaya raya, maka sebenarnya dia dalam posisi buan sombong, tetapi menikmati kesuksesan.

A.Definisi sombong
Kalau begitu, sombong itu yang bagaimana?

a.Menghargai diri secara berlebihan; congkak; pongah: tabiatnya agak aneh, sebentar — sebentar rendah hati (Sumber: http://kamusbahasaindonesia.org/sombong)
b. Rasulullah SAW: Sombong adalah “Perbuatan melecehkan orang lain dan menolak kebenaran” (HR Muslim dan Tirmidzi).
c. Sombong adalah keadaan seseorang yang merasa bangga dengan dirinya sendiri. Memandang dirinya lebih besar dari pada orang lain, Kesombongan yang paling parah adalah sombong kepada Rabbnya dengan menolak kebenaran dan angkuh untuk tunduk kepada-Nya baik berupa ketaatan ataupun mengesakan-Nya”. (Fathul Bari’ 10/601)

C.Ciri-ciri sombong

Dari definisi tersebut maka ciri-ciri orang sombong yaitu:
1.Menghargai diri sendiri secara berlebihan (termasuk narsis)
Bukan sombong: Menyadari bahwa dirinya memang mempunyai kelebihan dari pada orang lain dan berniat mengamalkan kelebihannya itu.

2.Melecehkan orang lain
Bukan sombong: Mengatakan bodoh kepada orang yang memang bodoh dengan tujuan memotivasi agar orang bodoh mauu berusaha untuk tidak menjadi bodoh.

3.Selalu merasa benar sendiri
Bukan sombong: Ada orang yang memang dalam posisi selalu benar. Ada argumentasi atau penalaran yang benar dan berdasarkan fakta.

4.Menolak kebenaran
Bukan sombong: Jika tidak sependapat dengan orang lain karena dari sudut ilmu logika pendapat orang lain memang tidak benar.

5.Tidak mau menghargai pendapat orang lain
Bukan sombong : Apabila pendapat orang lain memang salah dan ada argumentasi atau penalarannya yang bisa dipertanggungjawaban.

D.Sumber kesombongan
-Harta kekayaan
-Keturunan orang penting
-Amal atau ibadah
-Ketampanan atau kecantikan

Seperti apakah orang sombong ? tentunya setiap orang memiliki ekspektasi yang berbeda - beda dalam menilainya. Ada orang yang sombong karena tuntutan dan ada juga orang sombong karena bawaan sejak lahir dan biasanya akan bersifat sombong untuk berbagai hal. Oke langsung saja ini dia jenis - jenis orang sombong.
1. Sombong Permanen
Tipe orang sombong ini biasanya selalu menyombongkan diri dalam berbagai hal dan di berbagai kondisi seakan - akan dia yang paling hebat padahal kenyataannya tidak. Biasanya orang sombong ini selalu menyepelekan pendapat orang lain. 
Cara Menghadapi : Jauhi atau keroyok rame - rame.
2. Sombong Relatif
Orang sombong relatif biasanya kesombongannya tidak konsisten. Biasanya menyesuaikan deagan situasi dan kondisi. Orang sombong tipe ini biasanya akan sombong pada saat ngumpul bareng gengnya karena cuma di gengnya aja dia disegani tapi kalo udah tidak sama gengnya sombngnya hilang.
Cara Menghadapi  : Sombongin pas dia tidak sama gengnya.
3. Sombong Konsisten
Orang sombong tipe ini adalah yang paling tetap pendiriannya. Karena semua yang dia lakukan atau apa saja barang yang dimilikinya adalah yang paling bagus. Apabila ngobrol sama orang sombong tipe ini misalnya ngomongin kerjaan atau gadget biasanya dia akan sekuat tenaga untuk  mempertahankan pendapatnya bahwa pekerjaan atau gadget miliknya lah yang paling bagus walau kenyataannya kerjaan kamu atau gadget kamulah yang lebih bagus atau lebih mahal.
Cara Menghadapi : Diemin aja biar dia capek sendiri sebenarnya dia iri sma kamu.
4. Sombong Fake  
Tipe orang sombong ini biasanya paling jago ngibul. Soalnya semua omongan orang sombong tipe ini hampir semuanya bulshit. Misalnya selalu pake barang mahal padahal semua dapet minjem atau ngaku anak konglomerat padahal bisa sekolah aja syukur.
 Cara Menghadapi : Ajak temen dimana tempat dia minjem barang - barang mahal tadi. Atau ajak temen - temen kamu yang pernah disombongin main kerumah si orang sombong diem - diem.
5. Sombong Akurat
Kenapa disebut sombong akurat. Karena tipe orang sombong ini memang pantas untuk menyombongkan diri karena dia sombong tapi sesuai dengan kenyataannya.Misalnya dia menyombongkan kemampuannya tapi dia benar - benar disegani di lingkungannya karena kemampuannya atau menyombongkan kepintarannya tapi dia mampu lulus dengan comloude.
Cara Menghadapi : Beri pujian dan manfaatin

Kesimpulan

1. Kita harus hati-hati untuk menilai orang lain, sombong atau tidak. Harus kita ketahui motivasi atau tujuannya. Kalau tujuannya adalah memberikan pencerahan dan kebenaran, maka itu bukanlah kesombongan.

2.Orang yang merasa dirinya tidak sombong justru adalah orang yang sombong. Sebab, perasaan itu merupakan perasaan sok bersih, sok jujur, sok alim dan merasa hanya orang lain yang bisa sombong.

Semoga bermanfaat.